extraordinary

extraordinary

Thursday, October 6, 2016

Cicak Saksi Bisu


Bukankah setiap penyair selalu berusaha mengindahkan syair-syairnya,
Begitu pula dengan Tuhan,
Aku hidup dengan bahasa Tuhan
Aku hidup dengan syair-syair Tuhan yang indah.
Namun semua itu kembali pada kita
Mau membuatnya indah?
Atau atau malah menjadi duka?
tinggal bagaimana pribadi me-manage luka,
yang dibalut dalam rima

cicak yang menjadi saksi bisu

Setiap orang punya potensi untuk -sakit- yang aku lebih senang menyebutnya dengan -sisi gelap-. Emosi, akal, harapan, dan realita yang berjalan tak seimbang sehingga menimbulkan ketimpangan pada salah satu sisinya. Ya, -sakit- yang terjadi.
“Bunuh saja aku ya Tuhan. Bunuh saja aku. Aku tak kuat menahan beban ini” ucap bu maya sambil mengibaskan panci ke kepalanya dengan amat keras di sebuah sudut dapur dirumahnya.


Kala itu sore hari, ruang tamu sedang penuh dengan bude dan ponakan-ponakan pak suryo yang datang kerumah. Bercengkrama, setelah lama tak bersua karena salah satu keponakan pak suryo baru datang dari Maluku. Seperti biasa, pak suryo selalu memberikan petuah-petuah bijak kepada ponakan-ponakannya. Teh di atas meja yang tadinya panaspun kini telah terabaikan dan mulai dingin karena perbincangan dan senda gurau yang begitu asik. Aku masih memperhatikan mereka dari atas sini, di sudut dinding yang tinggi.
Ada Ara disana, anak bungsu Pak Suryo dan bu Maya. Ia juga ikut bercengkrama sambil sesekali tertawa mendengarkan cerita. Tak jarang ia juga ikut menyuguhkan lelucon yang membuat seisi ruangan spontan memamerkan giginya karena tak kuat menahan tawa.
Ruangan itu banjir dengan cerita. Kak Putri pun tak mau kalah, ia juga banyak bercerita mengenai pengalamannya, berbicara dengan penuh antusias seakan ingin sekali mengeluarkan seluruh isi otaknya agar semua orang tau. Kak Putri yang merupakan anak ke dua Pak Suryo dan Bu maya ini memang sangat cantik dan pandai, selain memiliki wawasan yang luas ia juga tak sungkan membagikan ilmunya kepada siapa saja.
Di bawah tangga sisi sebelah kiri ruang tersebut terdapat meja kerja tua berukuran satu setengah kali dua meter yang terbuat dari kayu jati, mungkin usianya sudah puluah tahun. Meja tersebut biasanya digunakan Kak Tita untuk mengerjakan desain-desain interior yang akan ia jual melalui media online. Meskipun tidak ikut nimbrung dengan keluarga, tetapi sesekali Kak Tita ikut tertawa ketika mendengar Ara mulai meringis sendiri dengan lelucon jayusnya. Namun saat itu Kak Tita lebih banyak diam dan sibuk mengatur desain-desainnya ketimbang harus banyak bicara. Meskipun begitu, dalam kesehariannya Kak Tita mampu menjadi contoh yang baik bagi Kak Putri dan Ara. Sebagai saudara tertua Kak Tita lebih banyak mengalah ketika nada pembicaraan sehari-hari mulai meninggi.
Kali ini aku juga tak mau ketinggalan, dari sudut dinding aku memantau seisi ruangan dengan mata kecilku. Melihat dan mengabsen satu-persatu anggota keluarga yang hadir bagaikan guru yang sedang mengabsen muridnya.
“Ara, Kak Tita, Kak Putri, Pak Suryo…emm…” lidahku terhenti. Sepertinya ada yang kurang selain bude dan ponakan-ponakan. Aku baru menyadari bahwa bu Maya tidak ada di ruangan yang buncah dengan cerita ini. Sudah setengah jam yang lalu bu Maya tidak lagi terlihat. Terakhir beliau tersenyum pada bude saat menyuguhkan teh panas di atas meja. Disaat yang sama Ara tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan pergi kearah dapur. Akupun berusaha berlari mengikuti Ara, membuntutinya lebih dekat.
“mamaaaaa…” Ara tiba-tiba berteriak yang spontan membuatku kaget.
“apa yang mama lakukan?, sudah maa, sudah” teriak Ara sambil menangis dan memeluk Bu Maya.
“sudah kembali saja kamu ke sana, tinggalin mama disini sendiri” Bu Maya yang juga menangis berusaha melepaskan pelukan Ara dan kembali melayangkan panci kearah kepalanya sendiri.
Sudut dapur memang agak jauh dari ruang tengah tempat keluarga bercengkrama. Aku yang ketakutanpun bingung harus berbuat apa. Kenapa tak ada yang tahu, tak ada yang mendengar dari ruang tengah sana.
“Tolong Kak Tita, Kak Putri…” teriakku dengan keras
Tiba-tiba Kak Putri datang dan bertanya,
“loh, kenapa? Ara kenapa ma?” 
Kak Putri mengira telah terjadi sesuatu pada Ara, karena waktu itu tangisan Ara seperti gadis kecil yang meronta-ronta setelah jatuh dari sepeda. Kak Putri masih belum juga menyadari keadaan.
“mama kak, mama” jawab Ara dengan terbata-bata
Seketika Kak Putri melihat tangan Bu Maya yang sedang membawa panci. Memperhatikan raut wajahnya yang lemas dan merasa kesakitan di bagian kepala akibat hantaman benda tumpul tersebut.
“Ya Tuhan, Mama… apa yang mama lakukan” spontan Kak Putri menarik panci tersebut dan segera melemparkannnya jauh-jauh.
Kak Putri berusaha menenangkan Bu Maya dan Ara yang waktu itu sangat ketakutan dengan memeluk mereka berdua.
Tak lama setelah itu, rombongan bude dan ponakan mencari-cari keberadaan Bu Maya, Ara, dan Kak Putri. Rupanya mereka akan berpamitan. Seketika itu Bu Maya segera menyeka air matanya dan Kak Putri berusaha bersikap seperti biasa, namun saat itu Ara yang begitu ketakutan tak kuat menahan isak tangis dan sesegukannya.
“Loh, ini Ara kenapa?” Tanya Bude kepada Kak Putri.
“ndak apa bude, hehee” Kak Putri menjawab dengan spontan, disusul senyuman Bu Maya yang terlihat sedikit memaksa.
“owalah, kok nangis itu. Ya sudah, aku sama anak-anak pamit dulu ya dek” segera bude dan ponakan-ponakan pak Suryo meninggalkan Bu Maya dan Ara. Sedang Kak Putri mengantar bude dan ponakan kedepan pintu bersama Pak Suryo dan Kak Tita.


Bu Maya adalah seorang pekerja keras, seorang pegawai perusahaan swasta yang harus siap ketika harus dipindah tugaskan ke berbagai instansi yang berbeda, sekaligus ibu rumah tangga yang tangguh namun tak banyak bicara. Ia hanya akan focus dan bergerak cepat agar pekerjaannya lekas beres dan beristirahat.
Tak banyak komunikasi yang terjadi di rumah berlantai tiga ini. Pak Suryo lebih banyak sibuk dengan sawahnya yang seringkali memaksa beradu mulut dengan pemilik sawah lain karena berebut pengairan atau dengan tokonya yang seringkali dicurangi pegawai nakalnya. Bu Maya yang selalu berkutat dengan rutinitasnya sehari-hari harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan, pergi ke kantor, pulang sore hari atau membersihkan rumah meski telah lelah. Begitupun Kak Tita, Kak Putri, dan Ara yang lebih sering asyik dengan dunia mereka masing-masing. Sedangkan aku? Ah, lupakan.


Tiga bulan yang lalu bu maya mengambil pensiun dini. Berbagai pertimbangan telah di godok matang-matang. Pak suryo, Kak Tita, Kak Putri, maupun Ara telah memberikan berbagai penguatan dan saran agar tidak mengambil keputusan dengan tergesa-gesa, tetapi Bu Maya sudah tekad dengan keputusannya. Alasannya sederhana, ia tidak mau membohongi hati nuraninya ketika harus dengan terpaksa menandatangani dokumen yang terkadang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku alias “mbeling”.
Aku kira pensiun adalah hal yang wajar bagi Bu Maya, mungkin beliau ingin menikmati masa tuanya bersama anak-anak dan suaminya, meskipun sangat disayangkan karena masa kerja yang seharusnya masih 7 tahun lagi.


“glodak” suara kursi kayu yang terjatuh ke lantai
“ah, mungkin…” belum selesai aku mengucap perkataanku terdengar suara Bu Maya
“aaaaahhh, aahhhhh”
Suara jeritan Bu Maya terdengar dari sudut kamar tengah. Seketika aku berlari menuju ruang tengah. Ternyata Bu Maya sedang menangis terisak-isak sambil membanting kursi kayu dan berusaha menendangnya. -Sisi gelap- itu kembali menggoda.
“apalagi yang terjadi dengan Bu Maya?” pikirku dalam hati.
“Mamaaa…” teriak Ara
Seketika itu, Ara menghampiri Bu Maya dan dengan tegas memeluk ibunya. Ara tak sanggup menahan tangisnya.
“ada apa lagi ma…” Tanya Ara sambil terisak
“aaaahhh” Tak ada jawaban dari Bu Maya
Tak berbeda dengan kejadian sebelumnya, Bu Maya kembali membuat buncah se-isi ruangan.
Hanya Ara yang tersisa menemani Bu Maya. Kali ini Pak Suryo menjalankan rutinitasnya mengurus sawah dan toko, Kak Tita sedang di rumah mertuanya, dan Kak Putri yang sedang berada di luar kota untuk melanjutkan studi S2 nya.
Ara yang seorang diri hanya bisa menangis dan memeluk Bu Maya agar tidak melakukan hal-hal yang diluar kendali.


Minggu minggu telah berlalu, namun situasinya masih tetap sama. Mencekam, penuh dengan kekhawatiran. Bahkan kali ini Bu Maya mulai berbicara perihal kekecewaannya karena akan dimadu. Beliau berfikir lebih baik mati daripada harus membagi cintanya dengan wanita lain. Hal-hal aneh mulai terasa dalam rumah ini. Boro-boro untuk memadu, untuk menoleh saja Pak Suryo enggan karena tau beratnya tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Setiap kali -sisi gelap- itu datang, Bu Maya tak mau membicarakan hal apapun kepada anak-anaknya. Ia hanya ingin membicarakannya berdua dengan Pak Suryo, berdua. Sedang Pak Suryo tak tahu harus bagaimana dan mengambil jalan seperti apa, yang bisa ia lakukan hanyalah menceritakan semuanya kepada ketiga anaknya dan bingung mencari solusi.
Ara pun tak hanya diam, ia mencoba berbagai cara. Mendatangi psikiater dan juga bude-budenya yang paham dengan hal ini. Karena tak ingin peristiwa ini jadi perbincangan sanak saudara, maka keluarga Pak Suryo termasuk Ara juga harus berhati-hati dalam bercerita terkait Bu Maya.
Psikiater berasumsi bahwa saat ini Bu Maya memiliki emosi yang tidak stabil. Ketidakstabilan emosi ini dapat di atasi salah satunya dengan cara menyeimbangkan antara otak kanan dan otak kiri. Ada berbagai cara yang disuguhkan untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri, antara lain dengan melakukan kegiatan di luar rutinitas sehari-hari, seperti mencoba menulis dengan tangan kiri, melintasi jalur yang berbeda dengan jalur biasa saat menuju kampus misalnya, atau juga dengan mengguyurkan air dingin diselingi air hangat saat mandi yang dilakukan berkali-kali.
Ara mencoba menerapkan cara tersebut pada ibunya, namun tak banyak membuahkan hasil. Pergi ke Bude dan bercerita adalah salah satu cara mengurangi beban dan kesedihan Ara. Karena meskipun telah pergi ke psikiater Ara kurang mempunyai kedekatan emosi yang baik sehingga tidak dapat leluasa menceritakan keluh kesahnya pada psikiater. Selain Bude Ara juga sering bercerita kepada Kak Putri, meski sedang di perantauan Kak Putri selalu menyempatkan diri untuk mendengarkan cerita Ara, karena Kak Putri tahu yang Ara butuhkan hanyalah didengarkan sambil berempati. Tak jarang Kak Putri memberikan motivasi dan nasihat sederhana agar Ara tidak ikut larut dengan keadaan yang menimpa Ibunya. Bagi Ara itu cukup membantunya.


Empat bulan berlalu,
Kak Putri pulang 2 hari yang lalu. Ia menyempatkan diri ditengah kesibukannya menjalani perkuliahan untuk menjenguk Ibunya tercinta.
“ini aja wes, jangan diganti-ganti TV nya mbak…” kata Ara yang berusaha merebut remot TV yang dipegang Kak Putri.
“gak asik iki acara pembodohan, mau aja kamu di bodohi orang cari uang di TV” saut Kak Putri yang tetap memegang remot dengan erat agar tak direbut Ara.
“Grubyaaakkk”
Kejadian yang selalu jadi kekhawatiran kami kembali terjadi. Seketika Ara dan Kak Putri bergegas menuju sumber suara yang berasal dari gudang.


Sebelumnya Bu Maya telah berbicara berdua dengan Pak Suryo mengenai masalah ini. tapi entah hasil apa yang di dapat.


Bu Maya terlihat mengobrak-abrik gudang. Kak Putri mencoba menghentikan Bu Maya. Sambil bercucuran air mata, Ara yang melihat kejadian itu seketika tersungkur berlutut, dan hampir pingsan di depan pintu. Bu Maya yang melihat Ara seketika keluar dari gudang sambil menangis dan pergi menuju kamar mandi.
“Ara, Ara” teriak Kak Putri sambil membopongnya ke ruang tengah.
“he, kamu harus kuat. Kalo kamu begini siapa yang bakal nguatin ibu”
“aku ndak kuat mbak…” saut Ara sambil terisak tangis
“kamu ndak mau kan ibu seperti itu terus, kamu harus lebih kuat. Kamu cewek kuat Ra”
Demikian banyak kata yang dilontarkan Kak Putri kepada Ara seketika itu. Ara yang shock hanya bisa tertunduk lemas sambil menangis terisak. Tak biasanya Ara seperti ini, meski dengan muka cemberut atau kesal menghadapi setiap masalah tapi ia akan tetap kuat dan tidak mudah menyerah. Atau mungkin ini adalah puncak Ara dari setiap kegelisahan yang tak kunjung reda, segala usaha, doa yang tak membuahkan hasil. Hati Ara kini rapuh melihat wanita setegar karang yang ia cintai itu bisa bersikap sedemikian rupa terhadap hidupnya sendiri. Ara lelah.


Kali ini aku bangun dan berusaha mencari sesuap nasi karena lapar.
Aku melihat Bu Maya yang sedang memasak, Ara yang sedang memberi makan ikan-ikan di aquariumnya, dan Pak Suryo yang sedang membaca Koran di ruang tengah.
Pikirku ini hari senin, ya senin biasa. Senin sehabis hari minggu dan senin sebelum hari selasa. Senin yang sama.
Tapi suasana yang sedikit berbeda, Bu Maya tak menghiraukanku yang sedang mengambil butiran nasi di atas meja makan.
Setelah empat bulan terhitung dari kejadian di gudang, suasana terasa berubah. Entah apa yang membuat suasana begitu berbeda, mungkin pembicaraan Bu Maya dan Pak Suryo yang sudah membuahkan titik terang, atau teknik keseimbangan otak kiri dan kanan yang diterapkan Ara, ataukah kejadian Ara hampir pingsan yang membuat Bu Maya tak tega?
Tapi yang jelas kini tak ada lagi -sisi gelap- Bu Maya. Meski sedikit canggung, tapi setiap anggota keluarga berusaha untuk bina suasana. Pak Suryo lebih sering mengajak Bu Maya untuk berolahraga meskipun lebih sering basa-basi, Kak Tita seminggu dua kali menjenguk Ibu meski sudah memiliki keluarga sendiri, Kak Putri yang tak pernah absen untuk SMS Bu Maya walaupun hanya sekedar Say Hello, dan Ara yang memilih mengurangi kegiatan di luar rumah dan menemani Bu Maya di rumah. Semua keluarga berusaha memberikan perhatian lebih dari biasanya, mendengarkan cerita Bu Maya, bercengkrama lebih sering dengan Bu Maya.
Suasana begitu menyenangkan, menyejukkan, aku merasakan keluargaku yang dulu lagi. Kehangatan yang telah beberapa lama hilang kini hadir kembali di rumah ini.


Beberapa hari yang lalu, aku mendengar Ara sedang berbincang dengan psikiater yang dulu pernah ia temui melalui telepon. Karena tidak ingin memutus tali silaturrahmi yang sudah terjalin, Ara mengungkapkan kebahagian yang ia rasakan saat ini sembari berterimakasih kepada psikiater yang telah banyak membantunya.
Mendengar cerita Ara tersebut, psikiater menyimpulkan bahwa Ibunya mengalami Post Power Syndrome. Yakni suatu gejala yang terjadi ketika si penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalu akan karir, ketampanan, kecerdasan, maupun yang lainnya dan tidak mampu melihat realita yang ada. Merasa hilang harga diri, tidak percaya diri, atau kehilangan orientasi kerja yang dapat membuat depresi. Sering terjadi pada lansia yang mendekati atau telah pensiun, namun tidak semua orang mengalami hal tersebut. Bisa disebabkan oleh beberapa factor eksternal, antara lain adanya PHK ataupun pensiun dini.
thank you so much” kata Ara dengan nada bahagia.
your welcome” sahut psikiater mengakhiri perbincangan di telepon.

Untuk saat ini Ara mencoba menerapkan cara-cara pemulihan yang telah disampaikan oleh sang psikiater. Dukungan keluarga yang amat di butuhkan oleh Bu Maya adalah yang utama hingga beliau mampu kembali seperti sediakala.

Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban,
untuk keduanya bertemu yang dibutuhkan hanya waktu
~Dewi Lestari

Dan aku? Haha, apalah artiku di rumah ini, hanya cicak kecil yang senantiasa menguping pembicaraan mereka sambil sesekali mencuri butir-butir nasi yang ada di dapur. Aku hanyalah seekor cicak kecil didinding rumah yang telah berdiri lebih dari 17 tahun ini. Usiaku kini mungkin tak lagi muda, tapi aku mengingat dengan jelas kejadian 2 tahun silam tersebut. Akulah cicak yang menjadi saksi bisu untuk keluarga yang hidup dengan syair-syair Tuhan.

it matters not the number of year in your life. it is the life in your years
~Abraham Lincoln






Wednesday, September 14, 2016

Tulang-tulang patahku

“Berlutut!”
“Berlutut!”
Dia berteriak kembali…
“Berlutut!”
Hingga aku tersungkur,

Seketika itu air mataku mengucur,
Aku ketakutan,
Tulang-tulang patahku tak mampu lagi digerakkan

Haluanku kini tak lagi kekiri, pun tak lagi kekanan
Kompasku kini harus pensiun karena terlalu sering terjatuh
Jariku yang dulu tegas menuliskan kata-kata lantang, kini harus perlahan-lahan meraba huruf
Entah sihir apa yang membuat nyawa seketika terpanah, menikam jantung, menembus punggung, mati terlentang di atas tanah gersang

Aku adalah sebuah bejana yang kau isi penuh dengan air surga,
Namun tak sengaja kau lempari batu hingga pecah
Aku adalah sebuah pembatas buku yang kau letakkan rapi di halaman yang telah selesai kau baca,
Namun tak kau sentuh lagi setelah sekian lama.
Aku adalah kamu yang selalu ingin bersama
Namun dihadapkan pada beda


July 16

Tuesday, December 29, 2015


Tak kah kau mendengar rinduku wahai matahari...
Pilu ku kembali terusik karena bulan memintaku bersamanya,
Sedang hanya dirimu yg msh berkutat disini...

Tak ada jawaban untuk bulan,
Karena ada 1 pertanyaan yg blm sempat kulontarkan pdmu...





"Ya, maukah kau kutunggu wahai matahari?"

Friday, September 4, 2015

mungkin, kadang, dan pasti

aku memang munafik jika berkata "cinta itu mudah"
ku katakan bahwa dulu aku hanya sebiji jagung yang belum pernah tumbuh menjadi pohon jagung.

cinta itu,
mungkin bukan hanya bicara, tapi juga kesabaran
atau mungkin kumpulan ikhlas dan  rasa percaya

ada yang bilang, cinta itu tak butuh penjelasan,
karena cinta adalah mengerti dan memahami
perpaduan seimbang antara emosi dan akal.

namun ada pula yang bercerita,
seekor angsa betina yang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya
ketika dihadapkan pada rasa cemburu dan rasa ingin memiliki seutuhnya

dan memang terkadang,
kumpulan wajah sumringah datangnya dari cinta
namun tak jarang kumpulan wajah muram datangnya dari cinta pula...

mungkin tak perlu mengejar-ngejar cinta,
kadang semakin di kejar, ia akan semakin lari

namun yang pasti, perlu meraih hati Sang pemilik seluruh rasa cinta
karena dengannya, kau akan mendapatkan lebih dari sekedar cinta dan kasih sayang

selamat petang bayangku,
selamat malam,
semoga kau selalu diliputi cinta dan kasih sayang



Sunday, June 14, 2015

kembali bayi


seperti bayi, yang baru belajar merangkak dan menguatkan tulung kaki untuk berdiri
seperti bayi, yang hanya bisa menangis tiba tiba tanpa bisa mengucap kata yang jelas
seperti bayi, yang baru belajar "nyonggo gulu" dan berusaha memandang kedepan...


kembali bayi

Monday, June 1, 2015

kereta dan stasiun

kereta tak bergeming, berjalan selalu pada jalurnya
mungkin sesekali ia merebahkan badannya ke tanah karena bosan
tapi semua orang nampaknya tak pernah suka dengan hal itu,

kereta sudah bosan,
kereta hanya bisa berteriak ketika jenuh menghampiri...
tugasnya tak pernah berubah
mengantarkan penumpang, jalur yang sama, dan lagi-lagi hal yang sama

tapi kereta terus berjalan, berapapun pemberhentian yang telah ia lewati, ia tak pernah berhenti lama
segera melangkah ke pemberhentian selanjutnya...

malam ini, aku mendengarnya...
berteriak dengan lantang di malam hari,
kembali dengan teriakan bosan,

meski begitu,
ia terus berjalan, meninggalkan sang stasiun namun tak pernah dilupakan...
dan tak pernah marah meski masinis tak pernah peduli,
selalu kembali untuk singgah meski tak pernah bercengkrama...

kereta dan stasiun...


selamat petang kota padat,
semoga engkau tak larut dalam gelap
salamku anak bumi arema

bangkodir, 1 Juni 2015

tempat sampah

kami sering disebut tempat sampah,
tempat dimana semua rasa yang tak di inginkan harus dibuang...
kami sering disebut tempat sampah,
tampungan segala kesal dan kecewa dilontarkan...
kami sering disebut tempat sampah,
yang harus segera dikosongkan meski kadang telah penuh dengan sampah sendiri...

maaf karena belum cukup waktu untuk lebih banyak mendengar,
belum cukup sabar untuk menahan emosi,
belum cukup kemampuan menampikkan ego untuk bisa lebih berempati...

belajar berbenah diri,

tak peduli, meski kami justru seringkali mengais-ngais sampah ...
meski kami sering disebut tempat sampah...

kami memang tempat sampah yang meski akan kotor, tapi berusaha agar tidak rusak...